Invasi Israel ke jalur Gaza masih berlangsung dan dengan angkuh melumat warga sipil yang tidak berdosa. Menggempur rumah-rumah dan menghancurkan masjid tempat ibadah kaum muslimin. Muslimah dirampas haknya, muslimin dianiaya, dan anak-anak mereka dibunuh secara keji. Dunia Arab, dunia Islam pun terdiam, tak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menyaksikan pertambahan jumlah muslimin yang terbunuh atau terluka.
Jalur Gaza memang jauh letak geografisnya dari negeri kita, tetapi jerit pilu mereka seolah terngiang-ngiang di telinga kita. Ceceran darah mereka seolah ada di depan mata kita, anyir baunya dan sangat memprihatinkan. Tak urung invasi keji ini hanya menyisakan kebencian yang menggumpal, amarah yang tergenang, tapi sama sekali tidak bisa disalurkan.
Kondisi Palestina Hari Ini Seperti kita pahami, negeri ini tak pernah sepi dari konflik bersenjata. Tiga agama besar mengklaim memiliki nilai penting di negeri ini, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Ketiganya saling mempertahankan eksistensinya atas tanah suci di sana. Inilah tempat bertemunya bangsa-bangsa di satu titik konflik dalam kurun waktu yang sangat panjang. Hanya saja umat ini perlu selalu ingat, bahwa Palestina bukanlah tanah kosong tanpa bangsa (The Land Without Nation). Palestina juga bukan milik Zionis Israel, sebuah bangsa yang tidak memiliki tanah (The Nation Without Land). Palestina adalah warisan kaum muslimin, dan hanya kaum muslimin yang berhak memilikinya. Di sana terdapat Al-Masjid Al-Aqsa, tempat para nabi dan rasul. Tanah ini telah mereka warisi sejak lebih dari 6.000 tahun. Hal ini karena Ibrahim AS bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula Nashrani, tetapi seorang yang hanif dan muslim.
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah ) dan sekali-kali dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik." (QS. Ali Imran 67). Ayat ini jelas menyebutkan bahwa Palestina adalah warisan ideologis, dan bukan warisan genetis. Masuknya Musa ke tanah Palestina bukan karena nenek moyangnya orang Palestina, melainkan perintah keimanan dari Allah SWT. Musa berkata, "Hai kaumku, masuklah ke Tanah Suci (Palestina) yang telah ditentukan bagimu (selama kamu beriman). Dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kalian akan menjadi orang-orang yang merugi." (QS. Al-Maidah 21). Dari sudut pandang ideologis, bangsa manapun berhak atas pengelolaan Palestina selama memiliki akar ideologi yang sama dengan ideologi yang diimani Musa juga nenek moyangnya, Ibrahim. "Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq,Ya'qub, dan anak cucunya; dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa-apa yang diberikan kepada nabi-nabi dan Tuhannya." (QS. Al-Baqarah 136).
Karena itu, Zionis Yahudi tidak memiliki hak waris atas tanah Palestina, baik dari Ibrahim, Musa, atau Ya'kub (Israel) yang merupakan nenek moyang mereka. Sebab, Palestina adalah warisan keimanan; dan Zionis Israel Yahudi saat ini berada dalam ruang keimanan yang berbeda, bahkan bertentangan dengan pendahulu mereka. "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. "Hai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam." (QS. Al-Baqarah 132).
Dari sudut pandang keimanan, Palestina adalah warisan Islam. Bukan warisan tiga agama dan peradaban; Islam, Kristen, serta Yahudi yang sering disebutkan mempunyai akar yang sama, yaitu agama Ibrahim. Sebab, Ibrahim hanya memiliki satu agama, agama Islam."Ataukah kalian, (orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'kub, dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, apakah kalian yang lebih mengetahui atau Allah? (QS. Al-Baqarah 140).
Umat Islam, Benar-benar Tak Berdaya Mengapa kita kalah di Palestina? Itulah pertanyaan yang sudah menggelayuti kaum Muslimin sejak puluhan tahun lalu. Mengapa umat Islam yang jumlahnya sekitar 1,4 miliar jiwa tidak berdaya mengahadapi kekejaman dan kebiadaban Zionis-Yahudi yang jumlahnya hanya beberapa juta saja. Perlu kita renungkan, bahwa jumlah kaum Yahudi di seluruh dunia hanyalah sekitar 15 juta jiwa.
Dalam Atlas of The World's Religions, disebutkan jumlah pemeluk agama Yahudi, 15.050.000. Pemeluk Islam adalah 1.179.326.000 dan pemeluk Kristen 1.965.993.000 (Ninian Smart, Atlas of The Worl's Religions, (New York: Oxford University Press, 1999). CM. Pilkington, dalam bukunya, Judaism, malah menyebut jumlah Yahudi hanya 13 juta. Mereka kini tersebar utamanya di 10 negara, yaitu USA (5.800.000), Israel (5.300.000), Bekas Uni Soviet (879.800), Perancis (650.000), Brazil (250.000), Argentina (240.000), Hongaria (100.000), dan Australia (97.000). (Lihat, Pilkington,Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003).
Ini sungguh mencengangkan. Umat ini benar-benar mirip buih di air laut. Banyak, tapi tak bisa membela diri dan melindungi kehormatan saudaranya. Beragam solusi kemudian ditawarkan. Elemen-elemen umat maju menggalang dukungan. Tetapi ketidakberdayaan mereka berhenti pada perlawanan yang paling lemah, yaitu memboikot penggunaan produk Yahudi.
Ide ini pun tak urung menuai pesimis. Banyak yang beranggapan ide boikot hanya akan menambah pengangguran. Ada yang beralasan kita masih tergantung produk Amerika . Sampai ada yang beralasan belum 'rela' untuk meninggalkan minuman kesayangannya dan makan di restoran ala koboi Amerika. Padahal ini salah satu cara kita yang paling lemah dalam memerangi zionis. Masih banyak kita temukan keluarga dai yang menggunakan produk Amerika dan Yahudi. Mereka cenderung tidak peduli hanya karena masih sangat bergantung dengan produk-produk Amerika yang sangat substansial dan belum tergantikan. Mereka tidak ingin memulai pemboikotan dari sedini mungkin, dari barang sekecil mungkin.
Produk siapa yang harus diboikot? Tentu saja produk Yahudi Israel dan negara sekutunya, Amerika. Amerika dikenal sebagai negara yang sangat mengutamakan kekuatan militernya. Pengeluaran terbesar negara ini digunakan untuk keperluan perang dan militer. Dan satu fakta yang tak terbantah, Amerika telah dikuasai Yahudi secara ekonomi. Sehingga mereka berpengaruh sampai ke politik, media, dan lain-lain. Michael Moore dalam bukunya Stupid White Men menyebutkan: ...pemerintah Amerika harus mengancam Israel untuk menghentikan agresinya dalam 30 hari atau Amerika menghentikan dananya untuk Israel. Aksi teroris yang dilakukan perorangan (bom bunuh diri Palestina) adalah hal yang buruk, tapi aksi teroris yang dilakukan negara (Israel) adalah sungguh-sungguh buruk...Anda dan saya (warga Amerika) dan jutaan pembayar pajak lainnya tanpa sadar menyumbang uang untuk agresi Israel. Agresi yang tidak akan ada jika 4 sen dari setiap paycheck kita tidak diambil guna membeli peluru-peluru yang mengisi senjata-senjata Israel untuk membunuh anak-anak Palestina. Kalau Israel tetap ingin uang dollar kita, Israel harus diberi waktu satu tahun untuk bekerjasama dengan Palestina untuk mendirikan negara bernama "PALESTINA".
Inilah pil pahit yang harus kita telan setiap hari. Kita tetap harus berdoa dan meminimalkan konsumsi produk-produk Yahudi dan Amerika. Saatnya kita menengadahkan wajah kepada Allah, dan memohon pertolongannya dengan doa, sebagaimana doa Nabi SWT ketika diusir dari Thaif. "Ya Allah, akau mengadu kepadamu akan lemahnya kekuatanku, sedikitnya dayaku, serta hinanya diriku di depan manusia. Engkau Tuhan orang-orang lemah, dan Engkau Tuhanku. Tiada Tuhan selain Engkau. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Kepada sesuatu yang jauh yang Engkau jumpakan kepadaku, atau kepada musuh yang Engkau kuasakan urusanku padanya. Jika tidak ada kemarahan-Mu atasku maka tak akan aku perdulikan. Namun pengampunan-Mu lebih luas untukku dari dosa-dosaku.
Disadur dari : Majalah Islam Ar- Risalah Hal. 21 Edisi 92 / Vol. VIII / No.8 Safar - Rabiul Awal 1430 H / Februari 2009